Lahan Petani Jagung di Desa Margaasih Semakin Berkurang

C

Bandung, Viral News.id . Salah satu keunggulan Desa Margaasih Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Jawa Barat, adalah komoditas pertanian Jagung Akan tetapi kini nasibnya terancam musnah.

Pasalnya, hektaran lahan yang dulu dijadikan lahan tani yang digarap kelompok tani (poktan) kini sudah mulai akan beralih pungsi menjadi perumahan.

“Lahan tani yang kami garap seluas 25 hektar, namun terus berkurang karena pemilik menjualnya untuk perumahan,” ungkap Didin (50) anggota kelompok tani Nurkam kampung Cantel Desa Margaasih Cicalengka kepada Media jumat 06/09/2018

Kelompok tani Nurkam, biasanya menggarap lahan seluas 25 hektar yang di tanami komoditas jagung kikil. Sejak munculnya program pembangunan perumahan yang digalakan pemerintah. Lahan pertanian kini banyak yang di jual untuk proyek perumahan.

“Masyarakat lebih memilih menjual tanahnya ketimbang menanaminya dengan komoditas pertanian kepada PT,” ungkap Didin.

Masalah lahan pertanian jagung yang dialami Kelompok Tani Nurkam Kampung Cantel, Kampung Garogol, blok gempur. Blok 9, memang sudah berlangsung lama.

Sebagian besar tanah-tanah di kampung tersebut sudah menjadi hak milik orang lain. “Kebanyakan tanah warga sudah di jual ke orang bandung, dan masyarakat jadi penggarap saja,” ungkapnya

Kendala lainnya, terkait dengan produktifitas jagung adalah musim kemarau. Pada musim ini, petani jagung tidak dapat berbuat banyak. “Kalau musim kemarau kita berhenti bertanam jagung,”katanya.

Kendati bantuan dari pemerintah untuk bibit dan lainnya sudah ada namun belum dapat di tanam karena kondisi lahan pertanian yang kekeringan. Akibatnya, petani hanya diam dan menunggu hujan turun.
,”Kita nunggu musim hujan saja untuk mulai menanam jagung, bibit pun belum diberikan kepada anggota kelompok tani,” ucapnya

Walau demikian, ada sedikit harapan di kelompok taninya untuk tetap bertahan. Sebab, ada sumber mata air yang tak pernah surut kalau musim kemarau tiba. “Di lahan kita ada sumber mata air yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pertanian,” katanya.

Namun, sumber mata air tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Baru sebagian lahan persawahan saja yang dapat memanfaatkannya. “Kalau untuk sawah-sawah masih dapat terairi dengan sumber mata air tersebut. Kalau untuk perkebunan air perlu ditarik keatas karena posisinya berada di bawah,” imbuh Didin kepada media. (Jafar)

Categories: desa,pemerintah

Leave A Reply

Your email address will not be published.